fiqih


 1. Apa Itu Fiqih? Ilustrasi:

Gambaran seseorang sedang membaca buku kitab kuning atau sedang berwudhu dengan khusyuk

Fiqih (فِقْه) secara bahasa berarti "paham yang mendalam". Kalau dalam istilah agama, fiqih adalah ilmu tentang hukum-hukum syariat praktis yang diambil dari dalil-dalilnya. Sederhananya, fiqih itu ibarat buku panduan panduan (panduan pengguna) kehidupan kita sebagai muslim.

Bayangkan kamu membeli gadget canggih tapi nggak baca manualnya, pasti pakainya asal-asalan, fiturnya nggak maksimal, atau malah cepat rusak. Begitu juga hidup. Tanpa fiqih, ibadah kita bisa jadi gerakan kosong tanpa makna, atau muamalah (bisnis/gaul) kita tanpa sadar melanggar aturan.

Yang perlu dipahami, belajar fiqih bukan sekadar menghafal "Rukun Shalat ada 13" atau "Syarat Sah Puasa". Fiqih adalah seni memahami apa yang Allah mau dari kita dalam setiap gerak-gerik harian, mulai dari bangun tidur, berbisnis, hingga urusan negara. Inilah jembatan antara aturan langit dan praktik di bumi.


2. Mengapa Belajar Fiqih Itu Penting?

Banyak yang menganggap fiqih itu kaku, ribet, dan isinya hanya “halal-haram”. Padahal, di situlah letak keselamatan kita. Banyak orang yang semangat beribadah, puasa kencang, sedekah jor-joran, tapi lupa mengecek apakah caranya sudah benar atau belum. Ingat, semangat saja tidak cukup kalau caranya salah. Ada beberapa alasan mengapa fiqih itu fondasinya tidak boleh ditinggal:

1.) Agar Ibadah Diterima (Sah) Syarat diterimanya ibadah itu ada dua: Ikhlas dan Ittiba' (sesuai tutunan Nabi). Nah, fiqih adalah cara kita memastikan poin kedua itu terpenuhi. Rasulullah ﷺ bersabda: صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari) Tanpa fiqih, kita hanya “mengira-ngira” ibadah kita yang benar. Bayangin capek-capek wudhu tapi ternyata ada syarat yang luput sehingga wudhunya tidak sah, otomatis shalatnya juga jadi tidak sah. Fiqih menjaga agar lelah kita berbuah pahala, bukan sia-sia.

2.) Tanda Kebaikan dari Allah Kalau kamu mulai tergerak hatinya untuk belajar hukum agama (misal: penasaran hukum jual beli online, atau tata cara mandi wajib yang benar), itu tanda Allah sayang sama kamu. Rasulullah ﷺ bersabda: مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ “Barangsiapa yang Allahii bersamanya, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama (Fiqih).” (HR. Bukhari & Muslim) Hadis ini bikin kita sadar, “paham agama” adalah indikator kebaikan seseorang. Orang yang paham fiqih, hidupnya terarah, nggak grusa-grusu, dan tenang karena tahu batasan.

3.) Solusi Masalah Sehari-hari Fiqih itu solusi. Dropship Bingung Hukum? Fiqih ada penjelasannya. Bingung cara shalat di pesawat? Fiqih punya solusinya. Fiqih menjadikan hidup seorang muslim itu fleksibel namun tetap berprinsip. Ia mengatur hubungan kita dengan Allah (Hablumminallah) dan hubungan dengan sesama manusia (Hablumminannas) agar harmonis dan tidak saling menzalimi.

4.) Menjaga Diri dari Keragu-raguan (Was-was) Pernah nggak merasa ragu, "Tadi kentut nggak ya?", "Ini airnya suci nggak ya?". Orang yang gak paham fiqih gampang banget kena penyakit was-was. Tapi kalau paham fiqih, dia punya kaidah: "Yakin tidak bisa hilang dengan keraguan." Hati jadi tenang, ibadah jadi mantap, nggak dihantui rasa takut salah yang berlebihan.


3. Mengapa Belajar Fiqih Terasa Membosankan/Susah? Ilustrasi:

Gambar tumpukan buku tebal dengan seseorang yang tampak bingung memegang kepala

Percaya deh, banyak santri atau master ilmu yang juga merasakan hal ini. Fiqih sering dianggap materi yang “kering” dibandingkan materi motivasi atau sirah. Penyebab utamanya biasanya karena kita langsung mempelajari masalah yang rumit sebelum paham dasarnya. Baru belajar agama, langsung bahas hukum waris atau ekonomi makro syariah, akhirnya pusing sendiri. Padahal fiqih itu harus bertahap. Selain itu, istilah-istilah asing (seperti istinja, thaharah, jaiz ) kadang bikin minder duluan. Ada juga yang merasa fiqih itu “mengekang”, padahal justru aturan itu dibuat untuk melindungi. Faktor lingkungan juga berpengaruh; kalau kita belajar sendirian tanpa guru (otodidak lewat Google), seringkali kita malah bingung karena banyaknya perbedaan pendapat ulama. Bukannya paham, malah jadi memuat kusir yang tidak ada konteksnya.



4. Tentang Rasa Bingung dalam Perbedaan Pendapat

Seringkali kita terpuruk saat tahu ternyata dalam fiqih banyak perbedaan pendapat (khilafiyah). "Ustadz A bilang boleh, Ustadz B bilang haram, jadi bingung!". Kondisi ini wajar, tapi jangan sampai bikin kita berhenti belajar. Justru perbedaan pendapat para ulama itu adalah rahmat (keluasan) bagi umat, syarat bersumber dari dalil yang sah. Kabar baik, kebingungan ini bisa dijelaskan. Bukan dengan menjadi ahli fatwa dadakan, tapi dengan adab dan strategi belajar yang benar:

  • Pertama, Mulai dari Fardhu 'Ain . Fokus dulu pelajari hal yang wajib kamu lakukan setiap hari: Cara wudhu, cara shalat, puasa, dan hukum transaksi harianmu. Jangan menyalakan kembali pada masalah yang jarang terjadi.

  • Kedua, Cari guru yang bersanad dan jelas keilmuannya. Belajar fiqih itu butuh “Talqqi” (bertemu guru), biar kalau bingung bisa langsung tanya dan nggak salah tafsir teks. Jangan cuma ngandalin artikel pendek di medsos.

  • Ketiga, Amalkan yang sudah dipelajari. Ilmu fiqih itu ilmu praktik. Kalau sudah tahu cara shalat sunnah Rawatib, langsung praktekkan. Ilmu yang diamalkan akan lebih nempel daripada yang hanya dicatat.

  • Keempat, Jangan fanatik buta. Pahami bahwa dalam masalah cabang (furu'), pendapat lain itu wajar. Hormati yang berbeda, pegang erat apa yang diajarkan gurumu.

  • Terakhir, Buat catatan kasus (Studi Kasus). Catat pertanyaan yang sering muncul di kepalamu, lalu tanyakan saat kajian. Ini bikin belajar fiqih jadi lebih hidup dan relevan dengan masalahmu.



5. Penyemangat untuk Kamu yang Sedang Mendalami Agama Ilustrasi:

Gambar tumbuhan tuna yang membelah tanah kering atau jalan setapak yang terang

Kalau kamu merasa belajar fiqih itu berat karena banyak aturannya, yang menyatakan bahwa Allah menurunkan aturan bukan untuk menyusahkan, tapi untuk memuliakanmu. Semua ulama besar yang karyanya kita baca hari ini, dulunya juga pusing menghafal istilah dan memahami dalil. Tapi mereka bertahan. Ingat... Setiap kali kamu menahan diri dari yang haram karena tahu ilmunya, itu pahala. Setiap gerakan shalat yang kamu perbaiki sesuai fiqih, itu mengangkat derajatmu. Rasa lelahmu duduk di majelis ilmu adalah jalan pintas menuju Surga. “Barangsiapa mendaki jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkannya jalan menuju surga.” (HR.Muslim)

Kamu tidak perlu langsung jadi ulama besok pagi. Kamu cuma perlu jadi Muslim yang lebih baik dari hari kemarin, yang beribadah bukan dengan "dia", tapi dengan ilmunya. Teruslah belajar, sedikit demi sedikit. Karena ibadah yang bertumpu pada ilmu, rasanya jauh lebih nikmat dan menentramkan jiwa.


 

Comments

Popular posts from this blog

leadership

TASRIF